Kenapa Takut Mati?

Siapa sih di dunia ini yang tidak mati. Meski kematian pasti datang, sebagian besar kita takut mati. Dan pura-pura akan hidup selamanya. Sehingga, menganggap tidak ada kehidupan setelah datangnya kematian. Sikap ini dibarengi dengan minimnya persiapan datangnya kematian. Juga mengenal apa yang disebut kematian.
Kematian menjadi hal tabu yang dibicarakan dalam sebuah keluarga. Padahal pembahasan tentang kematian dalam Islam sudah dicontohkan dalam perbincangan Lukman dengan anak-anaknya yang dimuat dalam QS Lukman. Namun, kebanyakan orang tua jarang sekali menyinggung kematian kepada anak-anaknya.
Ada sebuah dialog yang membuatku trenyuh yang diceritakan teman saya yang berprofesi sebagai dokter spesialis kanker anak. Pasien anak penderita kanker rata-rata belum mengenal kematian. Salah satu anak bertanya kepada dokter itu,”Pak dokter, kalau aku mati, apa seperti kucing yang mati tertabrak di pinggir jalan?” Pasien anak lain ada yang bertanya,”Pak dokter, apa kalau sudah mati temanku di kuburan itu cacing. Aku takut cacing.”
Ah, anak-anak yang seharusnya menatap masa depannya sebagai generasi penerus keberlangsungan hidup harus bertarung dengan penyakitnya dan menyambut datangnya ajal. Mendengarnya saja airmataku jatuh satu-satu.
***
Berbicara kematian terasa kian nyata ketika kita sakit atau menjenguk teman, keluarga yang sedang sakit parah. Minggu ini minggu menyedihkan. Bagaimana tidak. Dalam seminggu ada tiga orang teman yang dirawat di rumah sakit. Satu orang teman, masih sangat muda, baru berusia 23 tahun divonis dokter menderita jantung. Bukan hanya berbicara penyakitnya yang lumayan serius, ketika menjenguk teman tadi, aku juga seperti ditampar betapa mahalnya nikmat kesehatan yang kerap kita abaikan.
Selama dirawat seminggu, biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan jantung teman tadi lebih dari Rp 30 juta. Betapa mahalnya organ yang diciptakan Tuhan. Dan kita jarang bahkan lupa bersyukur atas nikmat sehat kita yang diberikan Tuhan secara gratis.
Usai menjenguk teman yang sakit jantung, sabtu kemarin menengok teman yang sakitnya kombinasi medis dan mistik. Temanku itu lumpuh, tidak bisa berjalan. Tubuhnya hanya tinggal tulang belulang. Sudah tujuh tahun hidupnya hanya dihabiskan di atas kasur. Ada dokter yang memvonisnya sakit lupus. Tetapi dokter lain mendiagnosa temanku itu kanker kulit. Entahlah mana yang benar.
Di luar dua vonis tadi, temanku sendiri bilang ada unsure ghaib yang berperan. Ia bilang sakitnya tidak murni medis. Percaya tidak percaya, aura mistik dalam penyakit temanku itu memang terasa kuat. Bahkan, saat aku berada di sampingnya bulu kudukku berdiri. Temanku bilang karena aku bersih sering puasa, maka aku sensitif dengan keberadaan mereka.
Kondisi temanku tadi sangat parah dengan batok kepalanya mengecil. Hebatnya, ia masih optimis sembuh. Aku juga memberikan support ke dia agar berjuang melawan penyakitnya. Ada satu hal yang baru kuketahui kemarin. Ibunya temanku bilang kalau temanku takut ajal menjemputnya. Ia meminta ibunya yang kondisinya buta selalu menemaninya. Ia takut kematian menjemputnya. Bahkan temanku pernah bilang, badannya terasa dingin tiap ada jenazah lewat rumahnya.
Kematian hal yang pasti terjadi. Bagaimana cara kita memandang kematian itu yang membuat persepsi atas takdir pasti manusia itu berbeda. Manusia dewasa pasti tahu kematian itu apa. Yang tidak manusia ketahui adalah kapan kematian dan bagaimana kematian itu datang dan bagaimana kehidupan setelah mati.
Sebagian besar agama meyakini adanya kehidupan setelah mati. Yang hilang adalah jasad manusia yang merupakan materi. Sedangkan ruh itu bukan materi, sehingga ia tidak hancur. Kematian bukan akhir segalanya atau terminasi, tetapi masa transisi dari alam dunia ke alam baru (Komaruddin Hidayat:”The Wisdom of Life”).
Bagi sufi, kematian ibarat malam pengantin. Bertemunya manusia dengan kekasih sejatinya. Sehingga kematian terkesan indah. Bagi mereka, kehidupan setelah mati itu indah. Karena itulah yang dinanti, bertemu dengan Sang Kekasih, Cahaya di atas Cahaya, Pencipta Semesta.
Ya, kematian adalah bertemunya ruh kita dengan pemilik kehidupan. Pertemuan itu tak lepas dari pertanggungjawaban amalan manusia selama hidup di dunia. Wajar jika manusia yang banyak berbuat kebajikan merasa lebih siap menyambutnya. Karena ia ingin memberi laporan atas keberhasilan kinerjanya kepada pemilik hidupnya. Sebaliknya, manusia yang lebih banyak berbuat berdasar hawa nafsunya, mengabaikan suara Tuhan akan takut menghadapi kematian. Karena beranggapan semua nikmat yang dicecap di dunia akan sirna. Begitu juga pemuasan nafsunya. Sehingga, bagi mereka kematian adalah pemutus kenikmatan. Kalau mereka mempercayai kehidupan setelah kematian, mereka juga sadar bahwa mereka akan menghadap Tuhan dengan rapor merah. Tentu ada konsekuensi bagi manusia berapor merah dan berapor biru.
Dengan mengenal kematian secara lebih lengkap, kita lebih siap menyambutnya. Bukan hanya tahu secara konsep, tetapi juga tahu bekal apa yang harus disiapkan ketika bertemu dengan Tuhan.

Kenapa Takut Mati?

Siapa sih di dunia ini yang tidak mati. Meski kematian pasti datang, sebagian besar kita takut mati. Dan pura-pura akan hidup selamanya. Sehingga, menganggap tidak ada kehidupan setelah datangnya kematian. Sikap ini dibarengi dengan minimnya persiapan datangnya kematian. Juga mengenal apa yang disebut kematian.
Kematian menjadi hal tabu yang dibicarakan dalam sebuah keluarga. Padahal pembahasan tentang kematian dalam Islam sudah dicontohkan dalam perbincangan Lukman dengan anak-anaknya yang dimuat dalam QS Lukman. Namun, kebanyakan orang tua jarang sekali menyinggung kematian kepada anak-anaknya.
Ada sebuah dialog yang membuatku trenyuh yang diceritakan teman saya yang berprofesi sebagai dokter spesialis kanker anak. Pasien anak penderita kanker rata-rata belum mengenal kematian. Salah satu anak bertanya kepada dokter itu,”Pak dokter, kalau aku mati, apa seperti kucing yang mati tertabrak di pinggir jalan?” Pasien anak lain ada yang bertanya,”Pak dokter, apa kalau sudah mati temanku di kuburan itu cacing. Aku takut cacing.”
Ah, anak-anak yang seharusnya menatap masa depannya sebagai generasi penerus keberlangsungan hidup harus bertarung dengan penyakitnya dan menyambut datangnya ajal. Mendengarnya saja airmataku jatuh satu-satu.
***
Berbicara kematian terasa kian nyata ketika kita sakit atau menjenguk teman, keluarga yang sedang sakit parah. Minggu ini minggu menyedihkan. Bagaimana tidak. Dalam seminggu ada tiga orang teman yang dirawat di rumah sakit. Satu orang teman, masih sangat muda, baru berusia 23 tahun divonis dokter menderita jantung. Bukan hanya berbicara penyakitnya yang lumayan serius, ketika menjenguk teman tadi, aku juga seperti ditampar betapa mahalnya nikmat kesehatan yang kerap kita abaikan.
Selama dirawat seminggu, biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan jantung teman tadi lebih dari Rp 30 juta. Betapa mahalnya organ yang diciptakan Tuhan. Dan kita jarang bahkan lupa bersyukur atas nikmat sehat kita yang diberikan Tuhan secara gratis.
Usai menjenguk teman yang sakit jantung, sabtu kemarin menengok teman yang sakitnya kombinasi medis dan mistik. Temanku itu lumpuh, tidak bisa berjalan. Tubuhnya hanya tinggal tulang belulang. Sudah tujuh tahun hidupnya hanya dihabiskan di atas kasur. Ada dokter yang memvonisnya sakit lupus. Tetapi dokter lain mendiagnosa temanku itu kanker kulit. Entahlah mana yang benar.
Di luar dua vonis tadi, temanku sendiri bilang ada unsure ghaib yang berperan. Ia bilang sakitnya tidak murni medis. Percaya tidak percaya, aura mistik dalam penyakit temanku itu memang terasa kuat. Bahkan, saat aku berada di sampingnya bulu kudukku berdiri. Temanku bilang karena aku bersih sering puasa, maka aku sensitif dengan keberadaan mereka.
Kondisi temanku tadi sangat parah dengan batok kepalanya mengecil. Hebatnya, ia masih optimis sembuh. Aku juga memberikan support ke dia agar berjuang melawan penyakitnya. Ada satu hal yang baru kuketahui kemarin. Ibunya temanku bilang kalau temanku takut ajal menjemputnya. Ia meminta ibunya yang kondisinya buta selalu menemaninya. Ia takut kematian menjemputnya. Bahkan temanku pernah bilang, badannya terasa dingin tiap ada jenazah lewat rumahnya.
Kematian hal yang pasti terjadi. Bagaimana cara kita memandang kematian itu yang membuat persepsi atas takdir pasti manusia itu berbeda. Manusia dewasa pasti tahu kematian itu apa. Yang tidak manusia ketahui adalah kapan kematian dan bagaimana kematian itu datang dan bagaimana kehidupan setelah mati.
Sebagian besar agama meyakini adanya kehidupan setelah mati. Yang hilang adalah jasad manusia yang merupakan materi. Sedangkan ruh itu bukan materi, sehingga ia tidak hancur. Kematian bukan akhir segalanya atau terminasi, tetapi masa transisi dari alam dunia ke alam baru (Komaruddin Hidayat:”The Wisdom of Life”).
Bagi sufi, kematian ibarat malam pengantin. Bertemunya manusia dengan kekasih sejatinya. Sehingga kematian terkesan indah. Bagi mereka, kehidupan setelah mati itu indah. Karena itulah yang dinanti, bertemu dengan Sang Kekasih, Cahaya di atas Cahaya, Pencipta Semesta.
Ya, kematian adalah bertemunya ruh kita dengan pemilik kehidupan. Pertemuan itu tak lepas dari pertanggungjawaban amalan manusia selama hidup di dunia. Wajar jika manusia yang banyak berbuat kebajikan merasa lebih siap menyambutnya. Karena ia ingin memberi laporan atas keberhasilan kinerjanya kepada pemilik hidupnya. Sebaliknya, manusia yang lebih banyak berbuat berdasar hawa nafsunya, mengabaikan suara Tuhan akan takut menghadapi kematian. Karena beranggapan semua nikmat yang dicecap di dunia akan sirna. Begitu juga pemuasan nafsunya. Sehingga, bagi mereka kematian adalah pemutus kenikmatan. Kalau mereka mempercayai kehidupan setelah kematian, mereka juga sadar bahwa mereka akan menghadap Tuhan dengan rapor merah. Tentu ada konsekuensi bagi manusia berapor merah dan berapor biru.
Dengan mengenal kematian secara lebih lengkap, kita lebih siap menyambutnya. Bukan hanya tahu secara konsep, tetapi juga tahu bekal apa yang harus disiapkan ketika bertemu dengan Tuhan.

Rezeki Allah Itu Luas

Selasa siang (9 Nov) aku kedatangan tamu istimewa. Mantan cleaning service (CS) di kantor, sebut saja namanya Maman. Tubuhnya terlihat lebih kurus dalam balutan jaket hitam. Terakhir ketemu Maman, ia sedang menganggur. Ceritanya, ia keluar kantorku karena memperoleh pekerjaan baru sebagai kurir yang berlokasi di Halim, Jakarta Timur.
Sepintas, pekerjaan baru Maman lumayan menggiurkan. “Gajinya lebih besar di sana mbak,” kata Maman berseri-seri saat pamitan. Aku lega Maman yang di kantroku menjadi supervisor CS ini memperoleh pekerjaan lebih baik. Terlebih istrinya kala itu baru saja melahirkan dan keluar dari pekerjaan sebagai buruh pabrik.
Sekitar dua bulan kemudian, Maman datang lagi ke ruanganku. Aku tanya, kenapa tidak bekerja di Halim lagi. “Gajinya habis untuk membeli bahan bakar, Mbak. Masak untuk mengantarkan barang harus menggunakan sepeda motor dan bensin dari kantong sendiri,” keluhnya. Tak perlu menunggu lama, Maman mantap keluar.
Sebenarnya Maman tahu, pilihan keluar bukan jalan terbaik. Karena, ia sangat membutuhkan uang untuk membiayai keluarganya. Untuk menambal kebutuhan keluarga, Maman menjadi guru ngaji di sebuah mesjid di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, masih mendapat rezeki dari orang tua murid,” ujarnya tersenyum.
Meski demikian, keuangan keluarga CS ini kian limbung. Pasalnya, honor guru ngaji sangat tiris dan tidak menutupi kebutuhan sehari-hari. Beruntungnya, dua bulan kemudian datang panggilan kerja sebagai security di rumah seorang pengusaha di Kemang. Namun, banyak pergolakan batin ia alami ketika bekerja di sini. “Saya sering bertanya, sumber uang ini haram atau halal,” terangnya menjelaskan asal muasal uang majikannya yang menurutnya menyalahi norma.
Dalam kebimbangan itu, ia memutuskan keluar. Ia kemudian melamar di sebuah perusahaan yang menangani maintenance beberapa gedung di kawasan Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, diterima. Dari 200 pelamar, saya termasuk 12 orang yang diterima,” ujarnya. Meski, bidang pekerjaannya lumayan berbahaya, membersihkan kaca gedung dengan gondola. “Ada saudaraku yang bilang, kerjaan kayak gitu kok diterima,” kata Maman tersenyum menambahkan,” Kujawab, daripada anak istri gue nggak makan?”
Sehari-hari Maman hidup menyepi. Maksudnya menjadi manusia atap. Ia jarang berinteraksi dengan karyawan yang lalu lalang di gedung. Meski bertaruh nyawa, Maman sangat bersyukur dengan gawean anyarnya. “Alhamdulillah kantor ngasih gaji lumayan mbak ,” kata Maman bungah. Dalam sebulan ia mengantongi gaji hampir Rp 2 juta dipotong jamsostek dan asuransi kesehatan. Jam kerjanya juga terbilang lengang. “Sore sudah bisa pulang,” kata Maman.
Ada satu hal yang membuatnya berani menabur mimpi untuk kehidupan lebih baik. “Selama ini saya jadi CS selalu kontrak. Di sini saya diangkat menjadi karyawan tetap. Jadi ada karir mba,” ujarnya senang.
Dalam kesabaran, ikhtiar, dan syukurnya, Allah memberi pekerjaan yang lebih baik kepada Maman, lulusan SMA yang bertekad mencari rezeki halal untuk mengepulkan dapur keluarganya.
Menyimak perjalanan Maman, aku seperti ditampar. Ternyata rezeki Allah itu tersebar. Tidak hanya di kantor tempat kita bekerja sekarang. Tetapi di pintu-pitu lain yang kerap kita tidak mengetahuinya dan menyangkanya. Namun, seringkali kita gamang untuk keluar dari zona nyaman. Takut Allah tidak menurunkan sebagian rezeki untuk kita. Padahal, kita tahu, kita yakin, Dia, Pemilik Semesta, adalah Tuhan yang Maha Kaya. Kenapa kita masih meragukan pintu-pintu rezeki-Nya?

Rezeki Allah Itu Luas

Selasa siang (9 Nov) aku kedatangan tamu istimewa. Mantan cleaning service (CS) di kantor. Tubuhnya memang terlihat lebih kurus dalam balutan jaket. Terakhir ketemu CS ini ia menganggur. Ceritanya, ia keluar kantorku karena memperoleh pekerjaan baru sebagai kurir yang berlokasi di Halim, Jakarta Timur.

Sepintas, pekerjaan baru itu lumayan menggiurkan. “Gajinya lebih besar di sana mbak,” kata CS itu berseri-seri saat pamitan. Aku lega ia memperoleh pekerjaan lebih baik. Terlebih istrinya kala itu baru saja melahirkan.

Sekitar dua bulan kemudian, CS itu datang lagi. Aku tanya, kenapa tidak bekerja di Halim lagi. Ia bilang, ternyata gajinya habis untuk membeli bahan bakar. “Masak untuk mengantarkan barang harus menggunakan sepeda motor dan bensin dari kantong sendiri,” keluhnya. Akhirnya, tak perlu menunggu lama, ia mantap keluar.

Ia sebenarnya tahu, pilihan keluar bukan jalan terbaik. Karena, ia sangat membutuhkan uang untuk membiayai keluarganya. Untuk menambal kebutuhan keluarga, CS ini mengajar mengaji di sebuah mesjid di Tebet, Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, masih mendapat rezeki dari orang tua murid ngaji,” ujarnya.

Meski demikian, keuangan keluarga CS ini kian limbung. Selama dua bulan ia hanya mengandalkan honor tiris sebagai guru mengaji. Beruntungnya ada panggilan kerja sebagai security seorang pengusaha di Kemang. Namun, banyak pergolakan batin ia alami ketika bekerja di sini. “Saya sering bertanya, sumber uang ini haram atau halal,” terangnya menjelaskan asal uang majikannya yang menurutnya menyalahi norma.

Dalam kebimbangan itu, ia memutuskan keluar. Ia kemudian melamar di sebuah perusahaan yang menangani mantainance gedung di kawasan Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, pekerjaan saya sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya,” kata CS ini tersenyum. Dalam sebulan ia mengantongi gaji sekitar Rp 1,7 juta dipotong iuran jamsostek dan asuransi. Jam kerjanya juga terbilang lengang.

Ia bersyukur Allah memberinya pekerjaan terbaik, jauh melebihi posisinya sebagai office boy. “Meskipun taruhannya nyawa, saya tidak apa-apa. Yang penting anak saya bisa makan dan halal,” ujar lelaki betawi ini.

Menyimak perjalanan CS, aku seperti ditampar. Ternyata rezeki itu tersebar di banyak tempat. Aku seperti mengalami kebimbangan, bingung, ketika memutuskan untuk resign. Munculnya pemikiran ini bukan tanpa sebab. Sudah banyak hal aku lakukan dalam mengisi masa transisi ini. Tetapi, semua pintu sepertinya tertutup. Aku laiknya menghadapi dinding tebal. Rabbi, hamba percaya, Engkau Maha Kaya. Dan Engkau akan member rezeki terbaik bagi makhluk-Mu.

Embun Kebaikan

Nopember 18th, 2010

(Bapakku Juara Satu Sedunia-Andrea Hirata)

Kamis pagi (11/11) aku dikejutkan dengan postingan di wall dari seorang teman lama, kawan semasa kuliah di Universitas Indonesia. Selain satu jurusan, kami kerap satu organisasi. Secara garis besar tulisannya sebagai berikut: “Mengenang Susan adalah orang baik yang selalu membantu aku. Ia sabar menjelaskan mata kuliah sebelum kuliah dimulai dan sering kurepotkan.”

Kalimat itu membuatku terharu. Aku sendiri sudah lupa, kalau aku kerap membantu dia. Nah, yang lebih membuatku luruh adalah komentar teman lain. “Ya, Susan bukan hanya baik, baik banget malah. Gue sering minta tolong sama dia. Anehnya dia nggak pernah minta tolong sama gue.”

Tak terasa butiran bening mengalir dari mataku. Ada rasa kelegaan ternyata jejakku sebuah kebaikan di mata teman-teman. Seminggu sebelumnya, sebuah amplop putih dari seorang teman mendarat di meja kerjaku. Aku bingung, kenapa dia mengirim surat untukku. Ternyata, isinya berupa ucapan terima kasih atas kepedulianku kepada keluarganya. Ada sentuhan damai menyapa hatiku kala membaca tulisan tangan itu.

Sejak kecil, lazimnya anak, aku mengamati perbuatan almarhum bapak dan ibu. Hal-hal baik yang mereka lakukan berusaha aku terapkan. Tiap pagi, aku melihat ibu rutin menggelar sholat dhuha selain tahajud dan hajad yang tak putus beliau lakukan. Untuk yang dua terakhir, aku masih bolong-bolong mengerjakannya.

Dari almarhum Bapak, seorang lelaki sederhana, tak punya pangkat, bukan pegawai apalagi pejabat, hanya rakyat kecil yang berusaha membahagiakan keluarganya, aku seperti menemukan mata air kehidupan. Ia seorang yang bijak, generous. Masih lekat di ingatanku, kala beliau sakit menjelang akhir hidupnya, Bapak masih sempat-sempatnya menanyakan keadaan keuangan salah seorang tetanggaku yang sedang mengalami kondisi sulit.

Semasa hidup Bapak sepertinya punya ‘hobby’ menolong sesama. Dari anak-anak gunung yang biasa beliau beri permen saat pulang kerja, mengantarkan tetangga sakit, memberi pinjaman kepada tetangga yang kesusahan, bahkan PNS dan polisi yang biasa mangkal di bengkel sederhananya juga tak luput dari bantuannya. Bapak juga kerap mengantarkan orang-orang gunung yang terlantar (dulu belum ada angkutan), memberi donasi untuk kepentingan desa, dan masih banyak lagi.   

Banyaknya kebaikan yang beliau tebar kerap membuatku terharu dan bangga sebagai anaknya. Maka, aku sangat setuju dengan Andrea Hirata. “Ayahku Juara Satu seDunia”. Setelah Bapak tutup usia, seorang Bapak kurus dengan tulus berterima kasih karena ia merasa seperti berhutang nyawa. “Kalau nggak ada bapakmu, entahlah, mungkin nyawa saya sudah tidak tertolong lagi,” ujarnya. Juga suatu sore, saat itu aku menumpang angkutan umum. Sopir bus menanyakan tempat tinggalku. Dia langsung bilang, ia punya seorang kenalan. “Orangnya sangat baik dek. Suka menolong orang. Saya termasuk yang ditolong. Rumahmu dekat dengan rumah beliau?” 

Kerap aku berpikir apakah keberadaanku bisa seperti Bapak, menjadi matahari, inspirasi, dan memberi manfaat bagi orang lain dan sekitar. Ia orang kecil yang mempunyai dunia luas. Kerap ‘putus asa’ menghampiriku kala berusaha meniru kebaikan Bapak. Kaki-kaki ikhlas sering berlari menjauh saat aku menabur satu benih kebaikan. Kenapa tiba-tiba lengan pamrih malah erat memelukku? Juga kepala egois yang tegak saat ada orang lain memerlukan pertolongan. Rabbi, sepertinya hamba masih jauh dari perilaku Bapak yang memancarkan ketulusan.

Aku juga kerap bertanya pada diri sendiri, apakah jika aku meninggalkan alam fana ini orang-orang akan merasa lega dan tertawa karena keberadaanku hanya menyusahkan orang lain atau menjadi duka bagi mereka karena hilangnya seorang anak manusia.

Postingan kawan lama di facebook tentang jejak kebaikan dan amplop surat dari seorang teman seakan embun pagi yang menyegarkan hari dan juga menjadi pesan untuk setia pada kebaikan dan Sang Maha Baik.

Bukankah jika kita menapak tilas dari wejangan nabi, sebaik-baik kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang banyak. Ayo kita berlomba menanam kebaikan di ladang kehidupan.

 

www.jendelasastra.com/susansutardjo

Ini Adik Dua

Nopember 14th, 2010  Tagged ,

Fadhilla Berlian Nisa, keponakanku kedua, buah cinta kakakku Indang Nuryanti dan suaminya Ikhwan, umurnya baru 19 bulan atau belum genap 2 tahun kala adiknya, Muthia Salsabila lahir. Muthia hadir ke dunia pada Februari 2001. Sebagai balita, wajar jika Dhilla, sapaan akrab Fadhilla, butuh perhatian khusus dari kedua orang tuanya. Sayangnya, perhatian itu sedikit tereduksi sejak kehamilan ibunya hingga kehadiran adiknya.
Kehamilan Muthia memang tidak direncanakan. Kakakku juga sempat shok saat tahu ia mengandung. Padahal, saat itu umur Dhilla baru 10 bulan. “Ya kaget saja, ga menyangka kalau hamil,” kata dia. Pasalnya, jarak antara Dhilla dengan kakaknya, Andra Hidayat, lumayan jauh, 7 tahun.
Dengan kehamilan ketiganya itu, konsentrasi kakakku terbagi dua, Dhilla dan calon bayinya. Ia juga menyiapkan mental Dhilla sebagai kakak sejak dini. Sebisa mungkin ia memberikan pengertian bahwa tak lama lagi Dhilla akan memiliki adik bayi.
“Genduk arep duwe adik (Dhilla mau punya adik-Red)” begitu ibunya kerap bicara kepada Dhilla kecil. Namanya juga bayi, Dhilla tidak terlalu tahu konsep adik itu seperti apa. Ibuku juga ikut memberikan pengertian kepada Dhilla.
Namanya juga bayi, Dhilla kecil tidak terlalu mengerti konsep kakak adik. “Tapi sebisa mungkin aku mengenalkan adik barunya,” kata Mba, panggilanku untuk kakakku. Dhilla kadang suka memegangi perut ibunya. Dan saat itulah kakakku bilang,” Ini ada adik Dhilla di dalam perut ibu.”
Memendam Cemburu
Kesibukan mengurus Dhilla dan mempersiapkan kelahiran lumayan menguras energi kakakku. Beruntungnya ada suami, ibu, dan ibu mertua mba serta tetangga sekitar yang memback-up mengasuh Dhilla. “Ini sangat lumayan membantu. Dhilla yang mengurusi orang banyak,” kata kakakku yang sehari-hari waktu itu sibuk mengurusi usahanya.
Pertengahan Februari 2001 kakakku melahirkan bayi cantik bernama Muthia di sebuah klinik di Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Dhilla di rumah bersama ibuku yang notabene nenek Dilla. Sesampai di rumah, mba mengenalkan Muthia kepada Dhilla.
Reaksi yang muncul saat Dhilla dikenalkan pada adik barunya adalah melengos. “Kelihatan sekali kalau Dhilla marah.,” kata Mba menambahkan, “Apalagi setelah dia melihat ada makhluk mungil serupa dengannya berada dalam pangkuan ibunya.”
Dhilla langsung menangis saat ibunya menyusui Muthia. “Ia seperti tidak rela ASI yang dulu miliknya kini disusu adiknya,” kata Mba. Terlebih, setelah hamil, ASI kakakku tidak keluar. “Kasihan Dilla, ia minum ASI hanya sampai 10 bulan.” Praktis hanya air putih yang Dilla minum sejak ibunya mengandung hingga Muthia lahir.

Dhilla juga seperti melakukan aksi boikot. Beberapa hari setelah adiknya lahir, ia hanya diam. Padahal, Dhilla kecil suka berceloteh. Syukurlah, meski Dhilla kecil protes kepada ibunya, ia tidak sampai memusuhi Muthia. “Dhilla tidak pernah mencubit adiknya atau memukul. Ia malah kerap memegang adiknya. Meski cemburu, ia sayang kepada Muthia,” kata Mba.
Seperti tahu kondisi ibunya yang repot mengurus adiknya, Dhilla akhirnya lebih dekat ke ibuku. Sejak adiknya lahir, Dilla kerap main sendirian. Padahal usianya belum genap 2 tahun. Bahkan, yang mengharukan, ia kerap main sendirian di atas kursi bundar balita beroda sampai tertidur sambil memegang buku dan pensil. Sesekali ia mengeluarkan suara ta ta ta ta sambil memegang pensil dan buku. Jika sudah kelelahan, ia tertidur dengan buku di tangannya.
Jika sedang haus, Dhilla yang masih berada di atas kursi latihan jalan beroda itu akan berujar,“Mik nyu.” Artinya mimik banyu atau minum air putih. “Kadang ia juga bilang yuyus artinya susu (susu formula-Red), namun sangat jarang. Dhilla tidak suka susu formula,” kata Ibu.
Kendati terkesan biasa saja, tidak rewel, ternyata Dhilla memendam cemburu yang mendalam dengan adiknya. Selang sebulan kelahiran Muthia, tepatnya saat usia Dhilla 20 bulan ia jatuh sakit. “Badannya demam karena memendam cemburu,” kata Mba. Akhirnya kakakku merayu Dhilla untuk menyusu lagi. “Eh, setelah diberi ASI sembuh,” ujarnya. Sejak saat itu kakakku kerap menyusui keduanya. “Tapi yang diprioritaskan Muthia.”
Adiktu
Sejak lahir hingga berumur enam bulan Muthia kerap bangun tengah malam hingga pagi. “Kalau bangun Muthia pasti menangis,” kata Mba. Kerewelan Muthia membuat perhatian Mba pada Dhilla berkurang. “Kalau adiknya nangis terus, Dhilla kerap tidur sendiri. Biasanya Bapaknya yang menemani,” kata Mba.
Sering jika rasa cemburu Dhilla muncul, ia minta ibunya menyusuinya berbarengan dengan ibunya. “Kadang kalau aku lagi menyusui Muthia, ia bergelayutan di punggungku, minta ASI juga.” Dhilla akhirnya menyudahi ASI ketika berumur 2,5 tahun.
Dhilla kecil kemudian mengisi hari-harinya dengan bermain pasaran. “Kadang bikin sambal-sambalan dengan mengulek dedaunan sambil bilang tak enthek enthek tak uleg-uleg maksudnya aku nguleg sambel,” kata Ibu tersenyum. “Dhilla anak yang lucu. Kadang kalau lagi main pasaran, ia ditanya tetangga, lagi ngapain Lek. Dhilla menjawab lagi pacangna maksudnya lagi pasaran hehehe,” imbuh Mba.
Begitu selesai mandi, kata Mba, Dhilla akan main ke tetangga dan bilang,”Atu wayuk, atu mangi (Aku ayu, aku wangi) sambil memegangi pipinya yang berbedak.” Biasanya tetangga orang dewasa hanya bilang,”Masak sih nduk. Kok ga ada bau harumnya ya.”
Kerap kali Dhilla juga digoda oleh tetangga sebelah. “Nduk, adik aku ambil ya.” “Jangan, itu adiktu, adik dua (Jangan, itu adikku. Adik Dhilla).” “Ya, meski ia cemburu pada adiknya, ia nggak rela adiknya diambil orang,” kata Mba tertawa.
Sekitar umur 3 tahun Dhilla mulai menempatkan diri sebagai kakak. Ia sering mengajak ngomong adiknya. “Mba Dua. Ini adik Dua (Mba Dhilla. Ini adik Dhilla),” celoteh keponakanku bermata indah itu.

Nyatanya fokus perhatian seisi rumah kepada bayi Muthia begitu membekas dalam hati Dhilla. Ia merasa dinomorduakan. Hingga, saat ia bisa menulis, yang ia tulis di buku adalah setiap orang hanya sayang kepada adik. Tidak ada orang yang sayang kepada Dhilla. “Aku sedih membaca tulisan itu. Tetapi bagaimana lagi. Sebenarnya aku ingin member perhatian yang sama. Tetapi Muthia sangat rewel,” kata Mba.
Tangis Muthia
Hingga usia menjelang TK, Muthia selalu rewel. Ia kerap menangis keras dan menjerit hingga suaranya hampir habis. Saking kerasnya tangisan Muthia, orang se kampung bisa mendengar lengkingannya. Terkadang kalau kelamaan, keponakanku itu menangis hingga batuk dan seperti muntah.
Ada seorang teman kuliahku yang kala itu bermain ke rumahku sempat geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakanku yang satu itu. “Dia itu menangis kayak menyanyi saja ya,” komentar temanku. Tangis Muthia seringkali terdengar. Ia menangis tidak mengenal waktu. Bahkan, tidak ada sehari pun yang terlewat tanpa tangisannya.
Bukan hanya teman kuliah yang gumon dengan tingkah Muthia. Keluarga besar dan tetangga pun heran melihat ‘hobby’ keponakanku membuat ‘nyanyian’. Muthia akan menangis kencang jika keinginannya tidak dipenuhi. “Kalau saat ini minta A, ya harus ada A.” jelas Mba.
Meski Muthia rewel, Mba tetap sabar. Imbasnya, perhatian ke Dhilla menyusut. “Dhilla tumbuh besar lebih banyak dengan Ibu,” kata Mba. Maka, yang dirasakan Dhilla adalah ibunya hanya sayang kepada Muthia. “Padahal sama-sama sayang. Hanya karena adiknya rewel luar biasa akhirnya perhatianku lebih fokus pada Muthia.”
Setelah kuamati, perilaku Muthia waktu kecil itu mungkin termasuk temper trantum. Menurut psikolog RSUD Cilacap Reni Kusumowardhani, temper trantum adalah suatu letupan amarah hebat yang terjadi pada anak usia 2 hingga 4 tahun untuk menunjukkan kemandiriannya dengan sikap negatif.
Penyebab temper trantum karena anak merasa frustasi apabila keinginannya tidak segera dipenuhi. “Mereka tidak mengenal kata ‘nanti’. Sehingga sulit untuk menunda atau menunggu pemenuhan atas keinginannya. Oleh karena itu, jika keinginannya tidak terpenuhi, anak balita akan merasa frustasi,” jabar Reni.
Menangis kencang, membuang sesuatu, kata Reni, menjadi sarana balita mengurangi rasa frustasinya. “Karena anak balita belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan marahnya secara epat,” jelasnya.
Ada beberapa situasi yang bisa memicu anak marah. Antara lain anak terlalu lelah, bosan, lapar, sakit, keinginannya tidak terpenuhi, tidak tahu apa yang diinginkan. Faktor lain adalah anak tidak mampu melakukan sesuatu sendiri, serta orang sekitar salah mengerti dengan yang ia maksud. Namun, ada juga lho temper trantum anak yang terjadi karena mereka meniru perilaku orang tuanya.
Karena perilaku ini terjadi hingga usia 4 tahun, menjelang 5 tahun Muthia berubah total menjadi anak manis. Ia tidak menunjukkan kerewelannya lagi. Yang membuat orang takjub, selain berperilaku manis, Muthia juga menjadi anak cerdas. Kini kedua keponakanku telah duduk di bangku kelas 4 dan 6 SD. Keduanya baik Dhilla maupun Muthia termasuk siswa berprestasi di sekolahnya. Keponakanku sayang anak impian masa depan. Semoga.
Tips Menangani Anak Temper Trantum
Tindakan preventif:
-Orang tua menjadi contoh yang tepat dalam menyalurkan emosi seperti saat ia marah.
-Tidak terpancing emosi saat anak marah.
-Beri penghargaan atau respon positif saat anak berperilaku baik.
-Siapkan mainan, buku cerita, dll yang menarik anak saat mengajak mereka ke acara yang kemungkinan membuatnya bosan atau lelah.
-Sering mengajak anak berkomunikasi tentang perasaannya.
-Beri perhatian cukup.
-Salurkan anak pada kegiatan positif.
Jika terlanjur temper trantum.
-Beri perhatian sewajarnya, jangan berlebihan
-Pegangi anak yang sedang marah tanpa mencederainya.
-Bersikap tegas, tetapi lembut, dewasa, peduli, dan positif.
-Alihkan perhatian anak dengan aktivitas lain.
-Kalahkan raungan tangis anak dengan suara tegas sehingga ia mendengarkan orang tua.
-Jangan memukul atau berucap kasar.
-Segera bawa anak ke tempat yang tenang, tidak terlalu ramai untuk menenangkannya.
Tips Mengasuh Balita dengan Jarak yang Berdekatan
-Berikan pengertian kepada kakak, kalau sebentar lagi ia akan mempunyai adik.
-Tanamkan pemahaman bahwa adik bukan saingan kakak, tetapi teman bermain yang menyenangkan.
-Tanamkan kebanggaan sebagai seorang kakak.
-Jangan dibedakan antara kakak dan adik. Misalnya segala hal mendahulukan untuk adik.
-Berikan penghargaan dan pujian jika kakak dan adik berperilaku positif.
-Berlaku adil dalam memberikan hukuman. Jangan membela adik karena ia masih kecil.
-Komunikasikan kepada kakak bahwa ayah dan bunda sangat menyayanginya, sama seperti menyayangi adik.
-Ajarkan meminta maaf jika kakak atau adik berbuat salah.
Susan Sutardjo

Embun Kebaikan

Kamis pagi (11/11) aku dikejutkan dengan postingan di wall dari seorang teman lama, kawan semasa kuliah di Universitas Indonesia. Selain satu jurusan, kami kerap satu organisasi. Secara garis besar tulisannya sebagai berikut: “Mengenang Susan adalah orang baik yang sering membantu aku. Ia sabar menjelaskan mata kuliah sebelum kuliah dimulai dan sering kurepotkan.”
Kalimat itu membuatku terharu. Aku sendiri sudah lupa, kalau aku sering membantu dia. Nah, yang lebih membuatku luruh adalah komentar teman lain. “Ya, Susan bukan hanya baik, tetapi terlalu baik. Gue sering minta tolong sama dia. Anehnya dia nggak pernah minta tolong sama gue.”
Tak terasa butiran bening mengalir dari mataku. Ada rasa kelegaan ternyata jejakku sebuah kebaikan di mata teman-teman. Kerap aku berpikir apakah keberadaanku memberi manfaat bagi orang lain. Apakah jika aku meninggalkan alam fana ini orang-orang akan merasa lega dan tertawa karena keberadaanku hanya menyusahkan orang lain atau menjadi duka bagi mereka karena hilangnya seorang anak manusia.
Seminggu sebelumnya, aku juga menerima sebuah amplop putih dari seorang teman. Aku bingung, kenapa dia mengirim surat untukku. Ternyata isinya berupa ucapan terima kasih atas kepedulianku kepada keluarganya. Ada sentuhan damai menyapa hatiku kala membaca tulisan tangan itu.
Postingan kawan lama di facebook tentang jejak kebaikan dan amplop surat dari seorang teman seakan embun pagi yang menyegarkan hari-hariku untuk selalu berbuat baik bagi sesama.
Bukankah jika kita menapak tilas dari wejangan nabi, sebaik-baik kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang banyak. Ayo kita berlomba menanam kebaikan di ladang kehidupan.

Mencari Cahaya Pasca Bencana

Kesedihan, kehilangan, kekecewaan, dan trauma adalah kata-kata yang melekat ketika bencana melanda. Secercah cahaya sangat diperlukan agar korban sembuh dan bisa melanjutkan hidup kembali pasca bencana.
Tangis Ismail lirih menyayat di antara puing reruntuhan material. Kepedihan nyata mencuat di wajah lelaki paruh baya itu. Dua anaknya dan istrinya menjadi korban amuk tsunami di kampungnya, Pagai Selatan, Mentawai, Sumatera Barat. Ia tak pernah menyangka, kebersamaan keluarganya akan berakhir di ganasnya air.
Duka juga dirasakan seorang ibu di Sumatera Barat. Acapkali air bening mengalir dari dua matanya. Bahkan, tangis keras terdengar kala nama anaknya, Angga, salah satu korban gempa di Padang, 30 September 2009 disebut salah satu presenter TV berita. Angga, anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar di Padang, menjadi salah satu korban meninggal saat gempa menggoyang bumi Minang. Meski setahun berlalu, duka ibu Angga masih terasa. “Saya masih sedih kalau masuk ke kamarnya,” ujar wanita berkulit bersih itu pilu.
Bencana alam tidak bisa diperkirakan kapan pastinya datang. Meskipun peradaban manusia telah menghasilkan teknologi yang bisa mendeteksi gejala alam penyebab malapetaka. Seperti diungkapkan Prof Hery Harjono Peneliti Bidang Kebumian LIPI kepada wartawan stasiun TV swasta beberapa waktu lalu. “Ilmuwan bisa menjelaskan fenomena alam setelah terjadi bencana, juga bisa membuat prediksi tetapi tidak bisa memastikan. Ada deviasi antara prediksi dengan kejadian,” ujarnya.
Dengan adanya ketidakpastian datangnya bencana, masyarakat harus memiliki kewaspadaan dan ilmu tentang bencana alam. Selain persiapan material, juga diperlukan kesiapan mental dan strategi yang harus dilakukan ketika musibah terjadi. Sosialisasi tentang penyelamatan diri kala gempa, banjir, gunung meletus, tanah longsor, tsunami, dll harus dilakukan mulai dari bangku sekolah dasar. Juga penyuluhan kepada warga masyarakat dari rukun tetangga hingga kelurahan.
Menurut Sciense For a Changing World Indonesia termasuk negara rawan bencana. Hal ini dikarenakan negara kita terletak di cincin api pasifik dengan 452 gunung berapi dan terjepit tiga lempeng yakni Eurasia, Pasifik, Hindia Australia. Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu lahan subur gempa, bencana gunung meletus, dan tsunami. Melihat kondisi geografis dan geologis Indonesia, sudah menjadi keharusan kita semua melek bencana.
Meski demikian, tetap diperlukan langkah-langkah progress dalam menangani bencana terkait traumatik korban, kelanjutan hidup korban dari sisi psikologis dan ekonomi, serta pemulihan daerah bencana.
Penyembuhan Trauma
Kehilangan harta benda atau menurunnya kondisi ekonomi menjadi salah satu kerugian yang diakibatkan bencana alam. Selain hilangnya orang terdekat dan keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan, dan cacat fisik. Sehingga wajar jika bencana alam menorehkan kenangan pahit dalam memori korban atau menimbulkan trauma dan pasca trauma. Dalam tinjauan psikologi kondisi pasca trauma disebut post traumatic stress disorder (PTSD) atau gejala stress pasca trauma.
Menurut para pakar psikolog, PTSD merupakan gangguan psikologis yang terjadi pada orang-orang yang pernah mengalami suatu peristiwa tragis atau luar biasa. Orang ybs menjadi sangat terpukul, marah, kecewa, meratapi nasib, sangat sedih, cemas, gelisah, sulit tidur, takut berlebihan, waspada berlebihan, menarik diri, sulit konsentrasi, tidak percaya apa yang dialaminya, merasa tidak berdaya, bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, kehilangan jati diri dsb.
Gangguan psikologis ini menyebabkan kondisi kehidupan korban sangat kritis, tidak nyaman dan rentan terhadap berbagai bentuk gangguan kesehatan fisik dan kejiwaan. Sebagian orang yang tidak kuat mentalnya akan mengalami stress, depresi, bahkan sakit jiwa.
Malangnya, gangguan ini bisa menetap lama pada diri korban hingga 30 tahun bahkan sampai seumur hidup. Sehingga diperlukan penanganan secara tepat antara lain dengan psikoterapi. Masyarakat diajak menerima kondisi realita yang ada, membantu dirinya sendiri menyembuhkan traumanya, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Aspek religiusitas menurut sebagian kalangan dinilai efektif membantu penyembuhan trauma korban bencana alam. Pasalnya, ketika agama seseorang kuat, ia akan menerima musibah dan menganggap itu sebagai cobaan. Ia juga akan mencari hikmah atau pelajaran dari musibah yang menimpanya. Setelah itu, korban akan berusaha bangkit, mengumpulkan energinya untuk kembali menata hidupnya.
Penanganan Anak
Selain orang dewasa, anak-anak kerap menjadi korban bencana yang terabaikan. “Anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana alam harus disembuhkan dari traumanya secara permanen. Penyembuhan trauma pada anak-anak tidak boleh bersifat sementara atau hanya memberikan hiburan sesaat,” kata Ketua I Komisi Perlindungan Anak Indonesia Masnah Sari seperti dikutip di harian Kompas. Anak-anak pasti mengalami trauma melihat rumah dan tempat bermainnya hancur, imbuhnya.
Misran, Koordinator Unit Pusat Kajian Perlindungan Anak, seperti dikutip dari laman Starberita.com mengungkapkan trauma dan kesehatan anak kurang mendapat perhatian, dan sering tidak tepat dalam penanganannya. Dalam kondisi darurat, anak anak juga sering mengalami eksploitasi ekonomi, keterpisahan dan kehilangan tempat aman, imbuhnya.
Tingkat ketergantungan anak-anak yang tinggi terhadap orang dewasa membuat mereka berada di bawah ancaman dan sangat beresiko ketika orang tua dan keluarga menjadi korban meninggal. Sayangnya, kata Misran, Indonesia belum memiliki sistem penanganan bencana komprehensif dan kebijakan khusus menangani anak-anak dalam situasi tanggap darurat. “Institusi seperti sekolah, panti asuhan, organisasi keagamaan lembaga adat perlu diperkuat kapasitasnya untuk merespon cepat menangani anak-anak ketika bencana terjadi,” ujarnya.
Trauma anak, kata Masnah, bisa disembuhkan dengan menitipkan anak-anak ke sekolah yang tidak mengalami bencana. “Anak-anak itu dikumpulkan di satu tempat khusus dan diberi proses belajar mengajar yang khusus,” terangnya. Dosen psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Wiwik dalam seminar penanggulangan bencana yang juga menghadirkan Misran mengatakan perlunya deteksi dini sebelum memutuskan langkah terapi yang akan dimbil. “Kita harus mengetahui riwayat anak sebelum dan setelah bencana, tanda-tanda perubahan psikologi secara umum dapat dikenali sejak dini.”
Melanjutkan Hidup
Rachman, salah satu korban selamat gempa Padang, Sepetmber tahun lalu, kini harus hidup dengan satu kakinya. Padahal, kaki menjadi bagian vital yang mendukung aktivitas kerjanya sebagai tukang bangunan. Meski kakinya harus ia amputasi sendiri dengan gergaji, pemuda berdarah Sunda itu mengaku bersyukur bisa selamat dari amukan gempa. Ia kini mulai menata masa depannya. “Saya berharap ada dermawan yang mau menyumbang kaki palsu untuk saya,” harap Rachman.
Sarifah Cut, perempuan paruh baya yang tinggal di Aceh Barat juga menjadi saksi hidup atas kedahsyatan tsunami yang melanda serambi mekah pada Desember 2004. Bukan hanya harta benda yang hilang, salah satu jarinya putus terkena benda tajam saat ia berusaha menyelamatkan diri. Usai tsunami, perempuan yang aktif menggerakkan perempuan desa untuk berkoperasi ini mulai menata hidupnya. Termasuk menghidupkan kembali koperasi wanita yang dibentuknya. Meski, aset dan sebagian besar anggota koperasi hilang disapu tsunami. “Saya memulai semuanya dari nol lagi,” ujarnya saat ditemui dalam sebuah pameran KUKM di Gedung Smesco Promotion Center, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bangkit pasca mengalami kejadian pahit dalam hidup seperti musibah bencana alam tidaklah mudah. Dibutuhkan refleksi yang akan menjadi bahan evaluasi dan guidance seseorang maju ke depan. Sayangnya, tidak semua orang bisa melakukan refleksi yang sangat membantu dalam memetakan kekuatan dan kelemahan serta strategi bertahan hidup dan enjalaninya dengan lebih baik.
Diperlukan dua syarat seseorang bisa bangkit kembali menata masa depan, yakni kemauan berjuang untuk hidup dan kemauan bangkit mengatasi masalah dan membangun kembali hidup dan daerahnya yang porak poranda. Selain itu, dalam konteks masyarakat, diperlukan daya gotong royong untuk menata kembali keluarga dan wilayah.
Pemulihan hidup korban sangat tergantung pada kualitas yang bersangkutan. Sehingga, kualitas manusia menjadi aspek penting dalam menata kembali hidup masyarakat korban bencana alam. Peningkatan kualitas manusia, bukan berpusar pada kecerdasan pribadi. Tetapi juga adanya perlindungan, jaminan rasa aman, dan kesejahteraan dari pemerintah setempat.
Ya, peran pemerintah, lembaga sosial, dan empati masyarakat yang tidak menjadi korban sangat diperlukan. Pemerintah harus memiliki kebijakan, lembaga, dan aparat yang sigap mendukung pemulihan korban dan wilayah bencana. Juga fasilitator lembaga sosial yang diharapkan membantu memulihkan gangguan mental masyarakat. Para fasilitator sedianya memberikan perhatian dengan mendengar keluhan, mendampingi mereka mencari solusi atas permasalahan yang ada. Selain itu, fasilitator juga mengarahkan masyarakat dalam membangun kembali daerah dan lingkungan sosial. Mari bersama membantu saudara kita yang tengah ditimpa bencana. Duka mereka duka kita juga.
Susan Sutardjo

Rezeki Allah Itu Luas

Selasa siang (9 Nov) aku kedatangan tamu istimewa. Mantan cleaning service (CS) di kantor. Tubuhnya memang terlihat lebih kurus dalam balutan jaket. Terakhir ketemu CS ini ia menganggur. Ceritanya, ia keluar kantorku karena memperoleh pekerjaan baru sebagai kurir yang berlokasi di Halim, Jakarta Timur.
Sepintas, pekerjaan baru itu lumayan menggiurkan. “Gajinya lebih besar di sana mbak,” kata CS itu berseri-seri saat pamitan. Aku lega ia memperoleh pekerjaan lebih baik. Terlebih istrinya kala itu baru saja melahirkan.
Sekitar dua bulan kemudian, CS itu datang lagi. Aku tanya, kenapa tidak bekerja di Halim lagi. Ia bilang, ternyata gajinya habis untuk membeli bahan bakar. “Masak untuk mengantarkan barang harus menggunakan sepeda motor dan bensin dari kantong sendiri,” keluhnya. Akhirnya, tak perlu menunggu lama, ia mantap keluar.
Ia sebenarnya tahu, pilihan keluar bukan jalan terbaik. Karena, ia sangat membutuhkan uang untuk membiayai keluarganya. Untuk menambal kebutuhan keluarga, CS ini mengajar mengaji di sebuah mesjid di Tebet, Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, masih mendapat rezeki dari orang tua murid ngaji,” ujarnya.
Meski demikian, keuangan keluarga CS ini kian limbung. Selama dua bulan ia hanya mengandalkan honor tiris sebagai guru mengaji. Beruntungnya ada panggilan kerja sebagai security seorang pengusaha di Kemang. Namun, banyak pergolakan batin ia alami ketika bekerja di sini. “Saya sering bertanya, sumber uang ini haram atau halal,” terangnya menjelaskan asal uang majikannya yang menurutnya menyalahi norma.
Dalam kebimbangan itu, ia memutuskan keluar. Ia kemudian melamar di sebuah perusahaan yang menangani mantainance gedung di kawasan Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, pekerjaan saya sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya,” kata CS ini tersenyum. Dalam sebulan ia mengantongi gaji sekitar Rp 1,7 juta dipotong iuran jamsostek dan asuransi. Jam kerjanya juga terbilang lengang.
Ia bersyukur Allah memberinya pekerjaan terbaik, jauh melebihi posisinya sebagai office boy. “Meskipun taruhannya nyawa, saya tidak apa-apa. Yang penting anak saya bisa makan dan halal,” ujar lelaki betawi ini.
Menyimak perjalanan CS, aku seperti ditampar. Ternyata rezeki itu tersebar di banyak tempat. Aku seperti mengalami kebimbangan, bingung, ketika memutuskan untuk resign. Munculnya pemikiran ini bukan tanpa sebab. Sudah banyak hal aku lakukan dalam mengisi masa transisi ini. Tetapi, semua pintu sepertinya tertutup. Aku laiknya menghadapi dinding tebal. Rabbi, hamba percaya, Engkau Maha Kaya. Dan Engkau akan member rezeki terbaik bagi makhluk-Mu.

Ini Adik Dua

September 30th, 2010  Tagged ,

Fadhilla Berlian Nisa, ponakanku kedua, buah cinta kakakku Indang Nuryanti dan suaminya Ikhwan, umurnya baru 19 bulan atau belum genap 2 tahun kala adiknya, Muthia Salsabila lahir. Muthia hadir ke dunia pada Februari 2001. Sebagai balita, wajar jika Dhilla, sapaan akrab Fadhilla, butuh perhatian khusus dari kedua orang tuanya. Sayangnya, perhatian itu sedikit tereduksi sejak kehamilan ibunya hingga kehadiran adiknya.
Kehamilan Muthia memang tidak direncanakan. Kakakku juga sempat shok saat tahu ia mengandung. Padahal, saat itu umur Dhilla baru 10 bulan. “Ya kaget saja, ga menyangka kalau hamil,” kata dia. Pasalnya, jarak antara Dhilla dengan kakaknya, Andra Hidayat, lumayan jauh, 7 tahun.
Dengan kehamilan ketiganya itu, konsentrasi kakakku terbagi dua, Dhilla dan calon bayinya. Ia juga menyiapkan mental Dhilla sebagai kakak sejak dini. Sebisa mungkin ia memberikan pengertian bahwa tak lama lagi Dhilla akan memiliki adik bayi.
“Genduk arep duwe adik (Dhilla mau punya adik-Red)” begitu ibunya kerap bicara kepada Dhilla kecil. Namanya juga bayi, Dhilla tidak terlalu tahu konsep adik itu seperti apa. Ibuku juga ikut memberikan pengertian kepada Dhilla.
Namanya juga bayi, Dhilla kecil tidak terlalu mengerti konsep kakak adik. “Tapi sebisa mungkin aku mengenalkan adik barunya,” kata Mba, panggilanku untuk kakakku. Dhilla kadang suka memegangi perut ibunya. Dan saat itulah kakakku bilang,” Ini ada adik Dhilla di dalam perut ibu.”
Memendam Cemburu
Kesibukan mengurus Dhilla dan mempersiapkan kelahiran lumayan menguras energi kakakku. Beruntungnya ada suami, ibu, dan ibu mertua mba serta tetangga sekitar yang memback-up mengasuh Dhilla. “Ini sangat lumayan membantu. Dhilla yang mengurusi orang banyak,” kata kakakku yang sehari-hari waktu itu sibuk mengurusi usahanya, produksi bakso.
Pertengahan Februari 2001 kakakku melahirkan bayi cantik bernama Muthia di sebuah klinik di Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Dhilla di rumah bersama ibuku yang notabene nenek Dilla. Sesampai di rumah, mba mengenalkan Muthia kepada Dhilla.
Reaksi yang muncul saat Dhilla dikenalkan pada adik barunya adalah melengos. “Kelihatan sekali kalau Dhilla marah.,” kata Mba menambahkan, “Apalagi setelah dia melihat ada makhluk mungil serupa dengannya berada dalam pangkuan ibunya.”
Dhilla langsung menangis saat ibunya menyusui Muthia. “Ia seperti tidak rela ASI yang dulu miliknya kini disusu adiknya,” kata Mba. Terlebih, setelah hamil, ASI kakakku tidak keluar. “Kasihan Dilla, ia minum ASI hanya sampai 10 bulan.” Praktis hanya air putih yang Dilla minum sejak ibunya mengandung hingga Muthia lahir.

Dhilla juga seperti melakukan aksi boikot. Beberapa hari setelah adiknya lahir, ia hanya diam. Padahal, Dhilla kecil suka berceloteh. Syukurlah, meski Dhilla kecil protes kepada ibunya, ia tidak sampai memusuhi Muthia. “Dhilla tidak pernah mencubit adiknya atau memukul. Ia malah kerap memegang adiknya. Meski cemburu, ia sayang kepada Muthia,” kata Mba.
Seperti tahu kondisi ibunya yang repot mengurus adiknya, Dhilla akhirnya lebih dekat ke ibuku. Sejak adiknya lahir, Dilla kerap main sendirian. Padahal usianya belum genap 2 tahun. Bahkan, yang mengharukan, ia kerap main sendirian di atas kursi bundar balita beroda sampai tertidur sambil memegang buku dan pensil. Sesekali ia mengeluarkan suara ta ta ta ta sambil memegang pensil dan buku. Jika sudah kelelahan, ia tertidur dengan buku di tangannya.
Jika sedang haus, Dhilla yang masih berada di atas kursi latihan jalan beroda itu akan berujar,“Mik nyu.” Artinya mimik banyu atau minum air putih. “Kadang ia juga bilang yuyus artinya susu (susu formula-Red), namun sangat jarang. Dhilla tidak suka susu formula,” kata Ibu.
Kendati terkesan biasa saja, tidak rewel, ternyata Dhilla memendam cemburu yang mendalam dengan adiknya. Selang sebulan kelahiran Muthia, tepatnya saat usia Dhilla 20 bulan ia jatuh sakit. “Badannya demam karena memendam cemburu,” kata Mba. Akhirnya kakakku merayu Dhilla untuk menyusu lagi. “Eh, setelah diberi ASI sembuh,” ujarnya. Sejak saat itu kakakku kerap menyusui keduanya. “Tapi yang diprioritaskan Muthia.”
Adiktu
Sejak lahir hingga berumur enam bulan Muthia kerap bangun tengah malam hingga pagi. “Kalau bangun Muthia pasti menangis,” kata Mba. Kerewelan Muthia membuat perhatian Mba pada Dhilla berkurang. “Kalau adiknya nangis terus, Dhilla kerap tidur sendiri. Biasanya Bapaknya yang menemani,” kata Mba.
Sering jika rasa cemburu Dhilla muncul, ia minta ibunya menyusuinya berbarengan dengan ibunya. “Kadang kalau aku lagi menyusui Muthia, ia bergelayutan di punggungku, minta ASI juga.” Dhilla akhirnya menyudahi ASI ketika berumur 2,5 tahun.
Dhilla kecil kemudian mengisi hari-harinya dengan bermain pasaran. “Kadang bikin sambal-sambalan dengan mengulek dedaunan sambil bilang tak enthek enthek tak uleg-uleg maksudnya aku nguleg sambel,” kata Ibu tersenyum. “Dhilla anak yang lucu. Kadang kalau lagi main pasaran, ia ditanya tetangga, lagi ngapain Lek. Dhilla menjawab lagi pacangna maksudnya lagi pasaran hehehe,” imbuh Mba.
Begitu selesai mandi, kata Mba, Dhilla akan main ke tetangga dan bilang,”Atu wayuk, atu mangi (Aku ayu, aku wangi) sambil memegangi pipinya yang berbedak.” Biasanya tetangga orang dewasa hanya bilang,”Masak sih nduk. Kok ga ada bau harumnya ya.”
Kerap kali Dhilla juga digoda oleh tetangga sebelah. “Nduk, adik aku ambil ya.” “Jangan, itu adiktu, adik dua (Jangan, itu adikku. Adik Dhilla).” “Ya, meski ia cemburu pada adiknya, ia nggak rela adiknya diambil orang,” kata Mba tertawa.
Sekitar umur 3 tahun Dhilla mulai menempatkan diri sebagai kakak. Ia sering mengajak ngomong adiknya. “Mba Dua. Ini adik Dua (Mba Dhilla. Ini adik Dhilla),” celoteh keponakanku bermata indah itu.

Nyatanya fokus perhatian seisi rumah kepada bayi Muthia begitu membekas dalam hati Dhilla. Ia merasa dinomorduakan. Hingga, saat ia bisa menulis, yang ia tulis di buku adalah setiap orang hanya sayang kepada adik. Tidak ada orang yang sayang kepada Dhilla. “Aku sedih membaca tulisan itu. Tetapi bagaimana lagi. Sebenarnya aku ingin member perhatian yang sama. Tetapi Muthia sangat rewel,” kata Mba.
Tangis Muthia
Hingga usia menjelang TK, Muthia selalu rewel. Ia kerap menangis keras dan menjerit hingga suaranya hampir habis. Saking kerasnya tangisan Muthia, orang se kampung bisa mendengar lengkingannya. Terkadang kalau kelamaan, keponakanku itu menangis hingga batuk dan seperti muntah.
Ada seorang teman kuliahku yang kala itu bermain ke rumahku sempat geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakanku yang satu itu. “Dia itu menangis kayak menyanyi saja ya,” komentar temanku. Tangis Muthia seringkali terdengar. Ia menangis tidak mengenal waktu. Bahkan, tidak ada sehari pun yang terlewat tanpa tangisannya.
Bukan hanya teman kuliah yang gumon dengan tingkah Muthia. Keluarga besar dan tetangga pun heran melihat ‘hobby’ keponakanku membuat ‘nyanyian’. Muthia akan menangis kencang jika keinginannya tidak dipenuhi. “Kalau saat ini minta A, ya harus ada A.” jelas Mba.
Meski Muthia rewel, Mba tetap sabar. Imbasnya, perhatian ke Dhilla menyusut. “Dhilla tumbuh besar lebih banyak dengan Ibu,” kata Mba. Maka, yang dirasakan Dhilla adalah ibunya hanya sayang kepada Muthia. “Padahal sama-sama sayang. Hanya karena adiknya rewel luar biasa akhirnya perhatianku lebih fokus pada Muthia.”
Setelah kuamati, perilaku Muthia waktu kecil itu mungkin termasuk temper trantum. Menurut psikolog RSUD Cilacap Reni Kusumowardhani, temper trantum adalah suatu letupan amarah hebat yang terjadi pada anak usia 2 hingga 4 tahun untuk menunjukkan kemandiriannya dengan sikap negatif.
Penyebab temper trantum karena anak merasa frustasi apabila keinginannya tidak segera dipenuhi. “Mereka tidak mengenal kata ‘nanti’. Sehingga sulit untuk menunda atau menunggu pemenuhan atas keinginannya. Oleh karena itu, jika keinginannya tidak terpenuhi, anak balita akan merasa frustasi,” jabar Reni.
Menangis kencang, membuang sesuatu, kata Reni, menjadi sarana balita mengurangi rasa frustasinya. “Karena anak balita belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan marahnya secara epat,” jelasnya.
Ada beberapa situasi yang bisa memicu anak marah. Antara lain anak terlalu lelah, bosan, lapar, sakit, keinginannya tidak terpenuhi, tidak tahu apa yang diinginkan. Faktor lain adalah anak tidak mampu melakukan sesuatu sendiri, serta orang sekitar salah mengerti dengan yang ia maksud. Namun, ada juga lho temper trantum anak yang terjadi karena mereka meniru perilaku orang tuanya.
Karena perilaku ini terjadi hingga usia 4 tahun, menjelang 5 tahun Muthia berubah total menjadi anak manis. Ia tidak menunjukkan kerewelannya lagi. Yang membuat orang takjub, selain berperilaku manis, Muthia juga menjadi anak cerdas. Kini kedua keponakanku telah duduk di bangku kelas 4 dan 6 SD. Keduanya baik Dhilla maupun Muthia termasuk siswa berprestasi di sekolahnya. Keponakanku sayang anak impian masa depan. Semoga.
Tips Menangani Anak Temper Trantum
Tindakan preventif:
-Orang tua menjadi contoh yang tepat dalam menyalurkan emosi seperti saat ia marah.
-Tidak terpancing emosi saat anak marah.
-Beri penghargaan atau respon positif saat anak berperilaku baik.
-Siapkan mainan, buku cerita, dll yang menarik anak saat mengajak mereka ke acara yang kemungkinan membuatnya bosan atau lelah.
-Sering mengajak anak berkomunikasi tentang perasaannya.
-Beri perhatian cukup.
-Salurkan anak pada kegiatan positif.
Jika terlanjur temper trantum.
-Beri perhatian sewajarnya, jangan berlebihan
-Pegangi anak yang sedang marah tanpa mencederainya.
-Bersikap tegas, tetapi lembut, dewasa, peduli, dan positif.
-Alihkan perhatian anak dengan aktivitas lain.
-Kalahkan raungan tangis anak dengan suara tegas sehingga ia mendengarkan orang tua.
-Jangan memukul atau berucap kasar.
-Segera bawa anak ke tempat yang tenang, tidak terlalu ramai untuk menenangkannya.
Tips Mengasuh Balita dengan Jarak yang Berdekatan
-Berikan pengertian kepada kakak, kalau sebentar lagi ia akan mempunyai adik.
-Tanamkan pemahaman bahwa adik bukan saingan kakak, tetapi teman bermain yang menyenangkan.
-Tanamkan kebanggaan sebagai seorang kakak.
-Jangan dibedakan antara kakak dan adik. Misalnya segala hal mendahulukan untuk adik.
-Berikan penghargaan dan pujian jika kakak dan adik berperilaku positif.
-Berlaku adil dalam memberikan hukuman. Jangan membela adik karena ia masih kecil.
-Komunikasikan kepada kakak bahwa ayah dan bunda sangat menyayanginya, sama seperti menyayangi adik.
-Ajarkan meminta maaf jika kakak atau adik berbuat salah.
Susan Sutardjo